Ding, aku sudah membaca suratmu kemarin.
Aku sedih, Ding, membacanya. Kau bilang negeri kita sudah jadi riak diterpa ombak. Hihihihi.
Aku tertawa? Tentu saja, caramu menggambarkan negeri kita sudah sama seperti anak-anak SD yang menggambar dunia seolah-olah hanya ada satu matahari, dua gunung, jalan berkelok, sawah dan petani.
Aku sedih, Ding, membacanya. Kau bilang negeri kita sudah jadi riak diterpa ombak. Hihihihi.
Aku tertawa? Tentu saja, caramu menggambarkan negeri kita sudah sama seperti anak-anak SD yang menggambar dunia seolah-olah hanya ada satu matahari, dua gunung, jalan berkelok, sawah dan petani.