Tuesday, March 6, 2012

Sebuah Siang di Pinggiran Kabupaten Bandung

Sayangnya jalan ini tidak sebersih yang diharapkan, meski viewnya bagus :P


Akarkering yang merambat di jaring






 Jalan Kita Masih Panjang, Bapak!
























Awan acak-acakan? Oke. Bangunan acak-acakan? Emmmm..













Dan Tukang Ojek yang menawar saya jasanyapun meninggalkan saya di jembatan atas Tol :p












Saya ga tau ini gunung apa, -_______- Mungkin Manglayang? Bagi saya semua gunung sama saja






Saya percaya setiap kota---atau kabupaten--punya sisi yang cantik. Saya suka Kabupaten Bandung. :)

Wednesday, February 29, 2012

Ketika Sekre Beristighfar

Hari ini saya ke sekre Suaka dengan sejuta cinta di rongga dada. (Halaaahh..)
Rencananya akan ada diskusi rutin yang dilaksanakan mingguan. Suaka sepakat untuk melaksanakannya hari Rabu. Entah kenapa. Tapi mungkin karena Rabu adalah hari tengah bagi weekdays. Jadi Rabu harus digeluti, tidak boleh disia-siakan dengan berpikir yang tak perlu. Mungkin.




Sesampainya di sekre, saya mendapati beberapa manusia. Semuanya lelaki dan semuanya sedang merokok. Memang ada juga beberapa yang terlihat hemaprodit. Tapi tak apa, mungkin karena mereka merokok, akan saya golongkan saja mereka jadi lelaki. (Siapapun boleh bilang saya kaku soal gender, tapi bagi saya, perempuan itu tetap tidak merokok).

Melihat asap yang mengepul, saya urung masuk dan hanya ber-say hi! ria, kemudian memilih duduk di luar saja.

Sunday, February 26, 2012

It's Been Along Time

Sore ini, saya tiba-tiba dipanggil (lagi) dengan sebutan "bocah". Fortunately, ini bukan karena saya menunjukan sisi kekanakan saya pada orang yang memanggil saya dengan sebutan demikian. Lantas? Ini terlebih karena orang yang memanggil saya ini, memang saya panggil "Om". Pantas bukan? Seorang Om dan seorang kemenakan yang dipanggil "bocah". :D

Tentang panggilan "bocah" ini pernah seseorang labeli pada saya, sejak saya berseragam abu sampai beberapa saat sebelum saya menanggalkan seragam abu itu untuk selamanya. Lucu memang, mengingat umur saya dan orang ini hanya terpaut 20 bulan saja. Saya memanggilnya "Kaka"--tanpa huruf "K" dibelakang. Panggilan biasa pada orang yang lebih tua. Tapi di antara kakak-kakak lainnya, kakak yang satu inilah yang saya rasa paling spesial. Kenapa? Kaka banyak mengajarkan saya hampir soal segalanya yang saya butuhkan, untuk menjadi lebih dewasa, atau lebih muslimah. Dan hebatnya, hubungan adik-kakak saya dan Kaka tidak sama seperti saya dan kakak-kakak lainnya: apa lagi kalo bukan yang berhubungan dengan sensitifnya cinta anak belia, yang hinggap dan terbang sesukanya.:)

Hahahaha :)


Ejja's Postcard to Winnie

"Karena kamu hanya punya dua kemungkinan,
setelah melepaskan aku sebagai teman dan memulainya dengan orang lain.
Pertama, kamu memulai dan menjalaninya dengan baik, sehingga ia,
teman barumu itu tidak kamu tinggalkan
seperti aku.
Kedua, kamu melakukan kesalahan yang sama, dan kehilangan dia
setelah kehilangan aku.
Terserah kamu."



Friday, February 24, 2012

Hari Ini Berat Banget, Kaka..


Akhir-akhir ini jam tidur saya agak gak asik. Biasanya berjam-jam saya hanya guling-guling, baca sambil tiduran, membuat beragam ukuran origami, baca-baca posting fiksi mini di salah satu grup fesbuk, atau melamun-lamun di depan cermin. Ini tidak baik. Saya tau itu. Salahnya, saya tidak tau cara menghindari atau mengenyahkannya dari malam-malam yang saya rasa panjang melintang menuju pagi.
Pun untuk tidur siang, faktor ketidakbiasaan sama jadwal kuliah ditambah rengrengannya membuat saya, rasanya, tak punya waktu. Mungkin hari Minggu atau Sabtu, baru saya punya waktu luang untuk tidur atau sekedar leha-leha di siang hari.

Hebatnya, siang ini saya tidur siang. Entah kelelahan di minggu ini atau apa, tidur saya nyenyak sekali. Hari ini memang libur. Mata kuliah Tasawuf dan Bahasa Arab resmi sudah pindah jadwal ke hari Senin dan Selasa. Tidur siang saya yang nyenyak pun lancar terlaksana.

Hingga ponsel saya berdering, Skipalong-nya Lenka mengalun, mengusik tidur saya. Saya terbangun. Tergagap menatap layar ponsel dan buru-buru mengatur suara. Seorang yang penting dari jurusan saya menelepon, mengatakan kalau surat kerjasama, permohonan sambutan dan proposal harus siap sebelum jam 2. Untuk konsolidasi dengan rektor, katanya. Saya kaget dan sedikit kelimpungan. Jam 2? Ini jam 1.36, Beliau bilang jam 2?? Akhirnya saya menjelaskan kalau printer rumah saya cuma hitam-putih dan rumah saya jauh dari tukang print. Tapi nampaknya beliau tidak mau tau. Ah, baiklah, semacam profesionalisme, mungkin ya. 

Setelah telpon ditutup, saya langsung menuruni tangga, menyalakan komputer, mengedit beberapa kata dari surat dan proposal yang harus difit ulang karena ada tambahan dan berpakaian sekenanya. Beres dari itu saya langsung menuju kampus, di atas motor, rusuh, saya melihat jam. Jam 1.56! Saya stres bukan main.

Sesampainya di kampus, saya memasuki tempat print tedekat dan mengeprint beberapa surat, juga proposal yang dipesan. Saya ingat jelas bahwa saya hanya membawa 19.000 saja, karena saya pikir itu akan cukup untuk hal yang satu ini. Sialnya, Segala rentetan ini berharga 19.300. Kurang 300 rupiah! MasyaAllah, saya menyesal meninggalkan dompet di kamar. Akhirnya dengan maaf berulang-ulang, saya izin mengambil uang dulu sama si pemilik tempat print. Wajah saya, yang selepas tidur siang itu hanya saya basuh dengan segayung air, entah bagaimana rupanya. Malu, capek, kumal, kucel, ah! Tidak nyeni sekali.

Dengan langkah terburu saya meninggalkan tempat print dan menuju rektorat di bawah matahari yang panas. Jantung saya berdegup tak karuan sambil berharap dana dari rektorat cair, biar kepanitiann ini lebih lenggang kalau melangkah. Saya mengirim beberapa sms ke orang penting yang tadi menelepon saya, tak ada balasan. Dengan gamang saya duduk di taman rektorat yang sudah kurang asri itu, sendirian.

Beberapa menit berlalu, orang penting itu turun dari tangga, bersamaan dengan itu saya melihat ketua pelaksana pelatihan ini menaiki tangga. Orang penting itu memegang amplop. Tersenyum penuh arti pada saya dan sang ketua. Sang ketua membalas senyumnya. Sedang saya cuma mengerutkan kening: BAGAIMANA BISA DANANYA CAIR SEDANG SURAT DAN PROPOSALNYA MASIH SAYA PEGANG ERAT DI TANGAN SAYA?

Saya bertanya penuh curiga dan sang ketua cuma bilang: "Ini diplomasi,"

Hah? Tampar saja saya sekalian. Saya membela administrasi mati-matian, tapi dengan birokrasi dan diplomasi yang kurang ajar, administrasi jadi sia-sia. Ini instansi kan? Ini organisasi kan? Ini kepanitiaan kan? Tiba-tiba saya jadi ragu. Emosi saya menggelegak. Rasanya siang ini makin panas.

Sesudah perdebatan yang tidak terlalu penting di fesbuk, dengan senior saya perihal ini, saya menemukan gambar yang cukup menenangkan dari Waves of Gratitude.


Move on dari keruwetan ini. Biar saja idealisme saya hanyut, atau hancur seperti kacang polong rebus.
Well, hari ini berat banget, kaka. Padahal saya sudah pake pesawat sederhana buat meringankannya. >,<

Thursday, February 23, 2012

Life Locked Me Out



Hari ini saya menjemput Tuwi di sekolahnya. Sekitar 30 menit menunggu, siswi kelas 2 SD berambut pendek itu meneriakan nama saya dari seberang parkiran, “Mbak atuuuu..” teriaknya lantang. Beberapa orang menoleh, sedang saya cuma menepuk jidat. Dasar anak kecil, batin saya.
Tuwi itu anak yang lucu, cerdas juga. Tingginya mungkin 1 meter, atau lebih. Kakak dari saudara kembar ini, aslinya bernama Trully Shafwa Winarno. Dipanggil Tuwi, atau Kakak Tuwi karena dia yang menginginkan dipanggil begitu.

Sepulang menjemput Tuwi, saya mampir cukup lama di rumahnya. Lalu sekitar jam 4, saya pulang. Baru sampai di Cinunuk, saya menerima SMS dari nomor tak dikenal: “Ratu keluar rumah dong,” SMS ini cukup membuat saya kaget. Saya membalas 2 kali, soal siapa dan memberitahukan kalau saya masih di jalan. Tak ada balasan. Akhirnya saya memasukan ponsel saya ke dalam tas karena sore itu mulai hujan.

Beberapa menit kemudian, Ka Godi, kaka senior saya di Suaka, mengsms saya, isinya tentang ajakan mampir ke Podomoro, sebuah kedai dari ayaman dekat jalan Cilengkrang. Ka Godi juga bilang, di sana banyak anak-anak. Sayangnya hari itu saya harus mengangkat jemuran, memasak nasi buat makan malam, juga mengeringkan diri saya yang basah kehujanan. Saya membalasnya dengan tidak bisa.
Kira-kira 100M dari rumah saya, ponsel saya berdering lagi, nomor Ka Godi memanggil. Saya menekan answer button dan mendengar suara Teh Nirra, kaka senior saya di Suaka juga, bicara di seberang sana. Isinya sama, ke Podomoro sekarang. Akhirnya, sesampai di depan rumah, saya malah melewatinya dan melanjutkan perjalanan ke Podomoro yang jaraknya mungkin sekitas 3 atau 4 KM.

Sesampainya di sana, cardigan dan kaos helter neck saya sedikit kuyup. Kaos kaki, sepatu dan rok saya juga sama, bedanya hanya mereka punya bercak-bercak dari lumpur di jalan. Begitu meminta maaf keterlambatan, duduk dan menatapi mangkuk-mangkuk kosong, saya langsung dipesankan es campur dan merasa kebingungan. Podomoro tidak punya minuman hangat. Hari yang cantik, batin saya.
Akhirnya, kami ngobrol-ngobrol kesana kemari, soal film Korea—yang saya kurang mengerti, yang sedang diputar di TV kedai itu, soal bilingual school, soal ayah Ka Godi, soal kacamata optik dan rengrengannya, soal tipe perempuannya Salman dan Ka Godi, pokoknya kesana kemari sekali.

Menjelang maghrib, saya pulang. Dan membekam diri saya selama beberapa saat di kamar tanpa menyalakan lampu. Saya menarik selimut sampai kepala, dingin dari kaos saya yang belum kering menyelinap. Tapi saya sedang merasa dekat sekali dengan kesepian, jadi saya biarkan. Dalam kondisi kedekatan dengan rasa sepi, saya tiba-tiba teringat percakapan saya dengan seorang teman, Sansan namanya.

Pic from Tumblr
“Ah, bukannya kamu juga kadang-kadang suka pengen sendirian ya, Ra?”
“Engga ko. Kalo aku lagi sendirian atau menghindar dari ramai, sebenarnya itu bukan mau aku,” bantah saya.

Kira-kira begitulah percakapannya. Saya tak pernah benar-benar mau sendirian, sebelumnya. Tapi menjelang maghrib ini saya benar-benar ingin mendekati kesepian, saling menyapa dengannya dan bicara kenapa saya dan sepi ucapkali berjumpa saat saya tak ingin. Tapi rupa-rupanya saat ini si sepi sedang tak enak badan dan kepingin istirahat tanpa cakap. Jadi saya meninggalkan kamar dan mengganti baju basah saya lekas-lekas.

Adzan menggema, sebelum wudlu saya sempat mengirim pesan pada lelaki yang ada bunga matahari di matanya: “Maghriban dulu. Pulang jam berapa hari ini? =)” Tidak ada jawaban. Akhir-akhir ini selalu begitu. Sepi-sepi saja. Mungkin inilah alasan kenapa sore ini saya mendekati sepi, mencoba mengakrabinya, juga memulai percakapan yang belasan tahun tidak saya inginkan. Mungkin, beberapa saat ke depan saya memang harus bersahabat dengan sepi, menjalin hubungan yang romantis biar saya bahagia meski berkubang di dalamnya. =)