Hallo, fellows! :D
Sore yang asyik setelah melewati siang yang panas. Beberapa menit yang lalu saya ada di balkon, sama se-mug penuh teh pahit hangat, duduk di kursi bambu yang warnanya udah ga cantik lagi diserap cuaca dan membayangkan dia--si canubi tentang kenapa dia mirip bala-bala, kenapa dia bisa tau hampir segala hal yang saya ingin tau, tentang kenapa dia selalu punya kejutan aneh-aneh yang menyenangkan, tentang kenapa bisa ada bunga matahari di kedua matanya, ya.. Begitulah. Canubi ga pernah berhenti jadi pertanyaan sengit selama ini.
Jadi aja bicarain canubi teruus >,< Ah!
By the way, fellows, siang tadi, saya membunuh waktu di PRD. FYI, PRD itu ruang perpustakaan referensi dosen. Berdasarkan namanya, ruangan perpustakaan ini memang dibikin untuk referensi dosen. Dengan kata lain, mahasiswa ya ga berhak ada di sana.
Sore yang asyik setelah melewati siang yang panas. Beberapa menit yang lalu saya ada di balkon, sama se-mug penuh teh pahit hangat, duduk di kursi bambu yang warnanya udah ga cantik lagi diserap cuaca dan membayangkan dia--si canubi tentang kenapa dia mirip bala-bala, kenapa dia bisa tau hampir segala hal yang saya ingin tau, tentang kenapa dia selalu punya kejutan aneh-aneh yang menyenangkan, tentang kenapa bisa ada bunga matahari di kedua matanya, ya.. Begitulah. Canubi ga pernah berhenti jadi pertanyaan sengit selama ini.
Jadi aja bicarain canubi teruus >,< Ah!
By the way, fellows, siang tadi, saya membunuh waktu di PRD. FYI, PRD itu ruang perpustakaan referensi dosen. Berdasarkan namanya, ruangan perpustakaan ini memang dibikin untuk referensi dosen. Dengan kata lain, mahasiswa ya ga berhak ada di sana.
Tapi nyatanya banyak mahasiswa yang nyari tugas disana. Mulanya, untuk saya, adanya mahasiswa di PRD itu rada kontroversial juga mengingat
nilai guna dari itu perpus yang diperuntukan untuk dosen. Lucunya, pengurus








