Showing posts with label Seriusan Ini Mah. Show all posts
Showing posts with label Seriusan Ini Mah. Show all posts

Monday, October 21, 2013

Ketika Pembantu Rektor III Tak Ada

Jam 9.40 pagi ini, saya menghampiri resepsionis Al-Jamiah dengan 2 buah surat dalam genggaman: satu untuk Pak Rektor, satu lagi untuk Pak Ali, lelaki muda yang menjabat sebagai Pembantu Rektor III. Al-Jamiah sepi, seperti biasa. Setelah basa-basi sedikit dengan pihak resepsionis yang berbaju hitam-hitam, saya mengisi buku tamu dan melangkahkan kaki ke lobi, menuju ruangan Pak Ali. Pihak resepsionis sebenarnya sudah memberitahu saya, Pak Ali tak ada di ruangan. Jadi saya masuk hanya untuk bertemu sekretarisnya, menanyakan mengapa Pak Ali tak ada di jam kerja Hari Senin pascalibur panjang Idul Adha dan menitipkan surat undangan itu.

Waktu masuk, kita langsung berhadapan dengan meja sekretaris, di belakangnya, ada penyekat untuk ruangan khusus Pak Ali. Di bagian ruangan hasil sekatan itulah saya bertemu 2 orang lelaki yang keduanya menghadap komputer. Saya pikir salah satunya adalah sekretaris Pak Ali. Jadi saya bertanya pada lelaki yang mejanya paling dekat pintu masuk.

Lelaki itu bilang, saya boleh bertanya pada siapa saja. Senyum lelaki itu agak menyeringai, mirip senyum tokoh antagonis di sinetron Ind*siar. Alis saya yang tipis agak mengkerut. Saya menangkap ketidakseriusan dalam nada bicaranya dan itu cukup membuat saya sebal. Rasanya kalimat "Sama siapa juga boleh," dengan nada seperti itu tak layak dikatakan seorang Staf Universitas bertitelkan Islam. Mau anggap saya terlalu serius? Silahkan. Toh saya memang datang ke ruangan itu dengan niat serius, untuk pembicaraan serius demi nama Universitas saya juga. Katakanlah saya sensitif, perasa. Terserah. Pokoknya dari awal saya masuk, saya sudah memperlihatkan bahwa saya sedang serius, bukan main-main apalagi mengajak bercanda.

Akhirnya, dengan mengesampingkan kedongkolan-kedongkolan itu dan tanpa lelaki itu persilahkan duduk, saya mengutarakan maksud saya. Lelaki itu menyimak, lelaki di meja duapun turut menyimak. Saya bilang ini memang acara tahunan yang dihadiri Pak Rektor dan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan. Saya bilang surat undangannya harus saya berikan langsung karena saya diamanati atas kontak konfirmasi semua surat yang saya kirim. Tapi sepertinya kedua lelaki yang menyimak saya itu belum tahu soal program yang saya berikan undangannya itu. Ini tentu berbeda dengan pihak resepsionis yang ketika saya sebut nama instansi dalam program itu, mereka terlihat mendadak mengerti dan mengizinkan saya masuk. Susah kalau begini, batin saya. Niat saya menitipkan surat jadi urung.

Saya membatalkan niat penitipan surat itu, tapi tidak membatalkan niat saya bertanya mengapa Pak Ali tak datang hari ini.
"Hari ini Pak Ali ga hadir, Pak?"
"Ya berhalangan,"
"Ada apa, Pak?"
"Ya, pokoknya berhalangan,"
"Kalo gitu adanya kapan ya, Pak?"
"Saya ga tau,"
"Loh? Bapak kan sekretarisnya?"
"Ya, Pak PR II adanya jam kerja."
"Sekarang jam kerja, Pak."
"..."
"Jadi kalo saya besok kembali lagi buat kasih surat di jam kerja, Pak Ali ada?"
"Ya mana saya tau."
"Kan Bapak sekretarisnya, terus tadi kata Bapak Pak Ali ada di jam kerja?"
"Ya saya gak tau,"

Saya menyampaikan kalimat saya dengan nada yang sama dari awal sampai akhir, dan lelaki itu menyampaikan kalimatnya dengan kian meninggi dari pertama hingga akhir. Saya memang sengaja membuatnya jadi berbelit, tentu karena saya kesal dia sekretaris yang buta jadwal atasan. Saya menyesal karena sempat berpikir sekretaris Pak Ali dapat bekerja sama soal penyampaian surat yang sebenarnya bukan hal besar-besar amat. Akhirnya saya menutup pembicaraan yang membuat gerah itu dengan mengambil surat yang kadung ada di atas meja dan bilang, "Biar saya sampaikan langsung sama Pak PR III, besok di jam kerja kalau memang ada. Terima kasih,"
Dengan tak ikhlas sayapun memberi salam, dan mencoba memberikan senyum paling manis yang saya bisa. Oh, saya munafik. Kemudian tanpa jawaban salam saya, saya melangkah kaki, meninggalkan ruangan sempit itu dengan surat yang utuh. Baru dua langkah dari pintu, saya mendengar kedua lelaki itu terkikik. Hati saya mendadak panas, seperti juga cuaca Bandung siang ini.
---

Bapak PR III, apa Bapak tahu kelakuan staff Bapak pada tamu mahasiswa Bapak? Atau Bapak juga sama saja? Ah Kampus kok segininya.

Wednesday, December 5, 2012

Anger and Stranger!

Saya lupa harinya, tapi waktu itu sore-sore dan saya mampir ke sekre. Gak terlalu banyak orang. Seinget saya, cuma Ka Salman, Ka Nira, Ojan sama seorang laki-laki berkacamata yang saya gak tau namanya. Lelaki ini seringkali saya lihat di sekre, sekitar sebulan terakhir. Saya gak tau kepentingan dia apa dan dia itu temennya siapa sampe sering ada di sekre begitu. (Sebelum saya lanjut, tolong jangan berpikir macam-macam dulu soal lelaki ini. Saya membicarakannya bukan karena saya tertarik dsb.)

Jadi kembali ke sore itu, Ojan, mantan PU saya yang berjenggot lagi panik karena kunci motornya hilang, padahal dia lagi buru-buru. Saya sebenarnya kasian juga dan ikut nyari. Tapi ditengah pencarian kami, Ojan berpikir kejauhan: ada orang yang

Saturday, November 10, 2012

Kelas Menulis Pak Budhiyana

Jadi hari ini ada kelas menulisnya Pak Budhiyana di Museum Asia Afrika, soal Jurnalisme Damai. Keren banget meski saya telat datang. Pak Budhiyana hari ini kelihatan lebih santai; kaos biru laut, jeans, zipper coklat sama sepatu coklat yang santai juga. Terakhir saya ketemu dia, dia lagi pake stelan gitu. Haha :)
Kelihatan lucu sih, sedikit. Soalnya keseringan liat dia pake rompi yang banyak sakunya. Rompi khas wartawan gitu.

Pak Budhiyana gak cuma ngasih pemikiran-pemikirannya Lynch, Goldrick sama Om Johan Galtung di kelasnya, tapi juga berbagi cerita trauma wartawan yang dikirim jadi Peace Journalist dan War Journalist. Tapi sebelum ngobrolin trauma, bahas dikit dulu soal Peace Journalist atau War Journalist ya. :))

Friday, November 9, 2012

I Love Friday Because Its Near with Weekend. I Love Weekend Because Its Near with Monday and Monday is My Favorit Hell :p

It was week ago at Rifa's room, I started falling in love with acoustic version of Linkin Park's New Divide. :)
Thats so nice like brand of sausage. (God please..)

New Divide Acoustic Person
by Girl who have beautiful sound (cz it is and Idk her name)

I remembered black skies the lightning all around me
I remembered each flash as time began to blur
Like a startling sign that fate had finally found me
And your voice was all I heard that I get what I deserve

So give me reason to prove me wrong to wash this memory clean
Let the floods cross the distance in your eyes
Give me reason to fill this hole, connect this space between
Let it be enough to reach the truth that lies
Across this new divide


There was nothing inside  The memories left abandoned
There was nowhere to hide
The ashes fell like snow
And the ground caved in between where we were standing
And
your voice was all I heard that I get what I deserve

In every loss in every lie. In every truth that you deny
And each regret and each goodbye was a mistake too great to hide
And your voice was all I heard that I get what I deserve

When I'm listening this song, I remember my bench-mate at first semester. Her name is Wardah. She is married and staying at her town now. I remember, once upon a time Wardah told me that she was so appreciating every Friday by said; "THANKS GOD, ITS FRIDAY!"
I remember Wardah and her Friday's thankful because I realize that today is Friday.


Of course I dont late to remember today is Friday. I meannn... It's 8.00 PM now :) It's still Friday and let's scream together: "THANKS GOD, IT'S FRIDAAAAAY.."

Im alone at home after this tired day. I actually need to go to top roof to dry my clothes but Im such in worry theres a bad ghost there. I dont like being alone, it makes me thinking someting.. Something bad. -____-
Like a ghost, bugs, rats.. Tiger, snake, eagle and so many more -____________-

Im gonna watch all programs of  @KompasTV tonite. Because I stay at that channel from 6PM and feel so addicted. Lets underlined it: Lukman Sardi is on TV, on @KompasTV 2 hour ago :D and how lucky I am because I watch hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiimmm (I watch him lose by Elementary student -___-)

1 hour ago I watched Spice of Life, its kind of cooking program on @KompasTV. The guest star is chef from Anatolia, Turkce. It makes me remember my language program. I pass the classes for so many times -_-
That's not good. (Really sorry and peaceful greeting to my Cecep Abi, youre the beeeeest Turkce Language Teacher ever, really :D )

Well, I have some promises for tomorrow, that means I can just sit, surf and watch TV tomorrow. But I know that people shouldnt have a lot of leisure time. It can makes some boring, thinking something bad and anything which is not good.
People have to be productive, so I try to be like that, as productive as I can.
:)

Well, see you tomorrow, fellows. Remember, miracle never comes by itself :D



Thursday, February 16, 2012

Apologi dan Cerita Tentang PRD

Hallo, fellows! :D 

Sore yang asyik setelah melewati siang yang panas. Beberapa menit yang lalu saya ada di balkon, sama se-mug penuh teh pahit hangat, duduk di kursi bambu yang warnanya udah ga cantik lagi diserap cuaca dan membayangkan dia--si canubi`ʃƪ)  tentang kenapa dia mirip bala-bala, kenapa dia bisa tau hampir segala hal yang saya ingin tau, tentang kenapa dia selalu punya kejutan aneh-aneh yang menyenangkan, tentang kenapa bisa ada bunga matahari di kedua matanya, ya.. Begitulah. Canubi ga pernah berhenti jadi pertanyaan sengit selama ini.
Jadi aja bicarain canubi teruus >,< Ah!

By the way, fellows, siang tadi, saya membunuh waktu di PRD. FYI, PRD itu ruang perpustakaan referensi dosen. Berdasarkan namanya, ruangan perpustakaan ini memang dibikin untuk referensi dosen. Dengan kata lain, mahasiswa ya ga berhak ada di sana.
Tapi nyatanya banyak mahasiswa yang nyari tugas disana. Mulanya, untuk saya, adanya mahasiswa di PRD itu rada kontroversial juga mengingat nilai guna dari itu perpus yang diperuntukan untuk dosen. Lucunya, pengurus

Wednesday, February 15, 2012

Hari Ini Aku Bolos Diskusi Suaka, Kakaks..

Hari ini aku bolos diskusi Suaka, kaka! Aku ga suka bolosss. :(
Ini gara-gara pelatihan jurnalistik yang berkasnya berjubeeel itu. Tadi kami maketin banyak paket yang mau disebar ke sekolah se-Garut. Masya Allah sekalilaahh..

Soal pembolosan diskusi Suaka, aku makin merasa jadi anak magang yang terhinakan. (Oo.. God, please.. >,<)
Kenapaaaaa?
Sebabnya ada dua..
Satu, aku gak pernah sekalipuuuuun ngirim berita online meski bahasannya aku dapet banyak. Aku ga ada ghirah nulis kalo ga kepepet -_- 


Omong-omong soal nulis, Kaka Dani sms aku waktu aku lagi di kelas. Dia bilang, anak HMJ mau ngadain pendataan minat. Jadi kelas  ga boleh bubar dulu.
Setelah beberapa anak HMJ masuk, mereka nyuruh kami nulis nama, alamat email, nomor telpon sama minat kita.
Pilih satu diantara ini:
  • Public Speaking: bahasa anak UIN-nya "Khitobah".
  • Writing: bahasa anak UIN-nya "Kitabah"
  • Radio, Films and Television Broadcasting: bahasa anak UIN-nya "I'lam"
Dan waktu Orientasi Jurusan kemarin, aku milih nulis. Tapi hari ini, aku milih broadcasting. Ga istiqamah juga sih. Tapi gimana.. Aku udah males nulis :(
Dilematis sih, apalagi sekarang aku pengen banget jadi wartawan. Yaa.. Seenggaknya wartawan kampuslah. Tapi dengan semangat aku yang suram dalam kepenulisan...

Aku jadi gak yakin kalo aku bakal beneran pegang kartu pers. :(

Apa jadinya wartawan tanpa menulis???

Hupp* Baiklah, balik ke yang tadi, alasan kedua aku kenapa aku bilang aku adalah anak magang yang terhinakan adalaaah...

Ini, aku ga diskusi mingguan. Meski cuma ga dateng sekali, tapi... aku merasa lengkap terhinaaaa. Hiks!
>,<


Wartawan tanpa nulis, tanpa tukar pikiran juga. Huuuuft sekali.

Aku jadi kepikiran berenti punya cita-cita wartawan deh. Aku ngerasa cuma punya idealisme tanpa aksi..
Aku ga mau jadi pemegang kartu pers tapi kualitas dalam diri aku aja masih aku pertanyakan.
Aku balik lagi aja ke dunia yang dulu, yang imajinatif, yang kalimatnya fiktif, yang jarang berdasarkan data, yang semaunya aku aja.



Hallo, the another dream list, say welcome to me..

Sunday, December 4, 2011

Child: "Do you thing my whole times just spend to kidding and joking?"

Menyamakan persepsi yang disodorkan rasio dan emosi memang tidak mudah, bahkan beberapa kalangan menyebutnya tidak mungkin. Kecuali objek dari keduanya sama-sama memiliki dasar yang sama, atau paling tidak, mendekati sama. Beranjak dari sebuah pernyataan Rizky Sopiyandi, kakak tingkat di PTN tempat saya berkuliah, bahwa tidak ada dewasa dalam ukuran mini, saya tiba-tiba jadi punya ratusan pertanyaan yang ucapkali menggema, membentur-bentur lorong-lorong buntu otak saya.

Apa dewasa itu? Seperti apa?
Kenapa bisa dewasa?
Apa bagusnya? Apa jeleknya?


Saturday, October 29, 2011

Kebebasan, Junalistik dan Budaya


Kebebasan hari ini telah menghembuskan angin sejuk bagi mereka, manusia yang ingin menjadi penulis. Bagaimana tidak? Citizen Jurnalism hari ini sudah melampaui batas-batas tertentu dalam kegiatan menulis. Misalnya saja kode etik jurnalistik yang paling sering dicuatkan ke permukaan pers Indonesia. Insan jurnalis masa kini, bisa saja menulis tidak sesuai fakta, bahkan disisipi keperluan-keperluan tertentu dalam konten tulisannya tanpa diketahui pihak bersangkutan, yang menyuarakan secara lantang tentang kode etik jurnalistik.